10 November hari ini merupakan hari pahlawan, pada tulisan ini saya mencoba tuk menuliskan profil seorang pahlawan yang tidak seterkenal Jendral Sudirman, Pangeran Diponegoro, Bung Hatta maupun Bung Karno. Tapi andilnya dalam meraih kemerdekaannya sangatlah besar.
Entoy Mohammad Tayib – Perintis Kemerdekaan Indonesia
Pria kelahiran Singaparna pada tanggal 2 Februari 1900 ini memulai riwayat perjuangannya pada tahun 1918 sebagai anggota Pemuda Serikat Islam (S.I.) di Singaparna – Tasikmalaya, Jawa Barat. Karena kegiatannya yang menentang, beliau ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan di vonis 2 bulan penjara dengan perjanjian 1 tahun karena masih di bawah umur.
Tahun 1923 Bapak Entoy Mohammad Tayib mempelopori gerakan Serikat Islam / Serikat Rakyat di Singaparna – Tasikmalaya. Dalam serikat itu beliau menjadi Formatur Pengurus Cabang dan menjadi Ketua Seksi Penerangan – Pendidikan & Sosial
Pria kelahiran Singaparna pada tanggal 2 Februari 1900 ini memulai riwayat perjuangannya pada tahun 1918 sebagai anggota Pemuda Serikat Islam (S.I.) di Singaparna – Tasikmalaya, Jawa Barat. Karena kegiatannya yang menentang, beliau ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan di vonis 2 bulan penjara dengan perjanjian 1 tahun karena masih di bawah umur.
“Love for All, Hatred for None” itulah tag line dari Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia yang tepat pada tanggal 27 Mei 2008 memperingati hari berdirinya Khilafat Ahmadiyah yang ke 100 tahun. 100 tahun yang lalu ( 27 Mei 1908 ) merupakan hari dimana diangkatnya Khalifah Jemaat Ahmadiyah pertama kali dan menandakan awal berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Khalifah yang pertama terpilih adalah 










