100 Tahun Kebangkitan Nasional


Hari ini tepatnya hari Selasa, 20 Mei 2008 merupakan 100 tahunnya Hari Kebangkitan Nasional. Jika dilihat dari sisi sejarah, seratus tahun silam merupakan berdirinya organisasi yang bernama Budi Utomo (Boedi Oetomo) yang merupakan pemikiran dari seorang dokter didikan Belanda yang ingin memajukan Bangsa Indonesia melalui pergerakan pemuda terpelajar, yaitu Dokter Wahidin Sudirohusodo. Menurut sejarah yang ada pendirian organissasi tersebut merupakan salah satu pemicu bagi bangsa Indonesia untuk mulai memperbaiki taraf hidupnya yang setelah berabad-abad lamanya di jajah Belanda dimana perlawanan-perlawanan yang ada sebelumnya selalu gagal. Organisasi Budi Utomo ini dimotori oleh pemuda-pemuda terpelajar dari sekolah kedokteran Stovia.

Itulah sejarah singkat mengapa tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, saya tidak akan panjang lebar mengenai sejarah masa lalu tersebut, karena bagi saya sejarah bukan harus dihafal, dan diingat karena dibalik hal itu yang terpenting adalah memaknai sejarah itu sendiri.

Memasuki tahun yang ke-100 bagi Kebangkitan Nasional seharusnya menjadikan bangsa ini semakin tangguh dan lebih baik lagi, namun kenyataan yang ada adalah semakin lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, disintegrasi bangsa juga mengancam, preman-preman pun meraja lela dengan berganti jubah, dan bagi saya yang paling menyedihkan adalah kharisma dari pemerintahan yang telah pudar, dimana pemerintahan sudah mulai melupakan konstitusi bangsa ini. Mungkin tulisan saya ini tidak sepenuhnya benar namun itulah yang terlihat jelas di mata saya, saya bukan seorang politisi ataupun orang yang paham politik, namun saya tahu apa yang benar dan apa yang salah.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Satu hal bagi saya yang sangat penting adalah kita sebagai Bangsa Indonesia harus kembali mencari jati diri kita sebagai Indonesia. Saya berani bilang bangsa ini (saat ini) telah kehiangan jati dirinya contah paling mudahnya, kurangnya kebanggan atas Bahasa Indonesia, contoh nyatanya, pos-pos polisi yang ada di perempatan jalan sekarang tidak lagi menggunakan tulisan “POLISI” namun mereka lebih memilih kata “POLICE”, mungkin ini bukan hal yang terlalu besar, (cuma masalah menggunaan bahasa) namun coba pikirkan, kepolisian Indonesia adalah elemen negara namun elemen negara itu sendiri saja tidak mengutamakan bahasa yang dimilikinya? Jika ingin disebut dengan “Go International” dengan menggunakan dua bahasa (Indonesia-Inggris) itu bagi saya lebih pantas.

Kemudian masalah hilangnya jati diri bangsa ini juga terjadi di dunia remaja-remaja bangsa ini. Mereka lebih condong meniru kabudayaan bangsa lain ketimbang bangsanya sendiri, contohnya banyak remaja-remaja yang bergaya ala Jepang dari dandanan hingga ia sendiri memiliki panggilan ala Jepang-nya. Memang itu adalah hak pribadi seseorang namun jika semua remaja lebih memilih kebudayaan luar gimana nasib kebudayaan bangsa ini? Kita seolah tidak perduli, namun ketika negara mengklaim kebudayaan indonesia milik mereka barulah kita marah-marah.. hahaha.. Mencintai kebudayaan bangsa sendiri bukan berarti kita harus pake kebaya, batik, ato bahkan koteka, namun kita harus lebih meyakini dalam diri bahwa kita adalah rakyat Indonesia dan kita memiliki keteguhan hati dalam menjunjung tinggi dan mengangkat martabat bangsa ini. Saya tidak akan munafik, saya juga punya nickname menggunakan bahasa Inggris namun itu bagi saya hanya sekedar nama panggilan.

Menjadi bangsa sendiri adalah hal terpenting bagi bangsa ini, meningkatkan rasa nasionalis harus diutamakan demi kembali tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, ingat kita adalah INDONESIA, bukan Arab, Pakistan, China, Jepang, Amerika, Inggis, Belanda, Perancis, Jerman jadi angkat kembali nilai-nilai ke-Indoneisa-an yang ber-Bhineka Tunggal Ika, dengan landasan UUD 1945 dan Pancasila. Ingat orang tua-orang tua kita para pendiri bangsa Indonesia telah berkorban jiwa dan raga untuk berdirinya bangsa Indoensia bukan bangsa lain.

Selamat 100 Tahun Kebangkitan Nasional

nb: turut berduka cita atas meninggalnya Bapak Sophan Sophian yang meninggal dalam kecelakaan motor dalam rangka memperingati 1 Abad Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 17 Mei 2008.

thanks to: http://www.liputan6.com