Hari Pahlawan 10 November 2008


10 November hari ini merupakan hari pahlawan, pada tulisan ini saya mencoba tuk menuliskan profil seorang pahlawan yang tidak seterkenal Jendral Sudirman, Pangeran Diponegoro, Bung Hatta maupun Bung Karno. Tapi andilnya dalam meraih kemerdekaannya sangatlah besar.

Entoy Mohammad Tayib – Perintis Kemerdekaan Indonesia

Pria kelahiran Singaparna pada tanggal 2 Februari 1900 ini memulai riwayat perjuangannya pada tahun 1918 sebagai anggota Pemuda Serikat Islam (S.I.) di Singaparna – Tasikmalaya, Jawa Barat. Karena kegiatannya yang menentang, beliau ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan di vonis 2 bulan penjara dengan perjanjian 1 tahun karena masih di bawah umur.

Tahun 1923 Bapak Entoy Mohammad Tayib mempelopori gerakan Serikat Islam / Serikat Rakyat di Singaparna – Tasikmalaya. Dalam serikat itu beliau menjadi Formatur Pengurus Cabang dan menjadi Ketua Seksi Penerangan – Pendidikan & Sosial

Mendirikan Sekolah Rakyat bagi anak-anak dan pemberantasan buta huruf bagi orang-orang dewasa pada tahun 1924

Terlibat pemberontakan terhadap penjajah Belanda, hingga tertangkap dan dibuang ke Boven Digul/Tanah Merah(Irian Jaya/Papua) setelah mengalami pemeriksaan dengan siksaan kejam dan hinaan-hinaan.

Setelah dibebaskan, ditangkap kembali pada tahun 1929 dan dibuang ke tempat pengasingan yang lebih jauh lagi, yaitu ke Gudang Arang untuk kemudian dipindahkan ke Tanah Tinggi (Irian Jaya/Papua).

Pada tahun 1935 dikembalikan ke pulau Jawa. Pada masa itu beliau bergerak dikalangan agama dan kemudian menjadi anggota Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Missie Muslim Achmadiyah di Indonesia, pada waktu itu).

Pada masa Perang Dunia ke-II ketika di Indonesia Belanda berperang melawan Jepang, Bapak Entoy Mohammad Tayib kembali ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan ke dalam penjara pada tahun 1942. Beliau dibebaskan oleh Jepang ketika Belanda telah kalah.

Pada tahun 1943 beliau ditangkap oleh Kempethay (Balatentara Jepang) untuk dipenjara kembali dan dimasukkan ke dalam kelompok tawanan yang berjumlah 23 orang. Di dalam penjara beliau mengalami penyiksaan-penyiksaan yang luar biasa di luar batas prikemanusiaan yang dialaminya bersama tawanan-tawanan lainnya yang dilakukan oleh Kempethay. Sehingga dari 23 orang tawanan, 22 orang gugur pada masa tahanan itu.

beliau baru dibebaskan menjelang saat-saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 dan kemudian memperoleh kesempatan untuk menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (K.N.I) di Singaparna-Tasikmalaya. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Bapak Entoy Mohammad Tayib turut serta dalam pertempuran-pertempuran perang kemerdekaan selanjutnya di wilayah Jawa Barat dan akhirnya memasuki kota Jakarta bersama perembesan-perembesan dari Ibo Kota Republik Indonesia Yoguakarta pada tahun 1949


Tahun 1951 bersama Prof. Bahder Djohan, Bapak Entoy Mohammad Tayib mendirikan Gerakan Orang Tua Murid Jakarta Raya dengan nama Persatuan Orang Tua Murid (POM) yang kemudian diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (PDK).

Beliau merupakan salah satu anggota pendiri YAYASAN PUTERA BAHAGIA pada tahun 1952 di Jakarta yang bertujuan untuk melaksanakan pembinaan dan pembangunan putera-puteri, khususnya dalam rangka pemulihan kesehatan anak-anak SD Jakarta Raya bekerjasama dengan Dinak Kesehatan Kota (DKK) di Jl. Kesehatan 10 Jakarta

Pada tahun 1959 diangkat sebagai Sekretaris Pimpinan Umum PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA.

Pada tahun 1964 menjadi anggota Panitia Nasional Pembangunan Makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Digul (Irian Jaya/Papua)

Menjabat Wakil Ketua Pimpinan Umum PRINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA (hasil kongres Palembang) pada tahun 1976 hingga beliau wafat pada tanggal 13 Maret 1981


4 thoughts on “Hari Pahlawan 10 November 2008

  1. Aki Entoy layak menjadi Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara ini. Kalau bisa diteruskan dan diajukan kepada Pemerintah.

  2. membaca artikel pahlawan ini,..saya hanya bisa mengenang dan mendoakan beliau,..coz,..karna darahnya akan tatap selalu mengalir di saya sebagai cucunya langsung,..semangat juang hidup yg tinggi dan perjuangan atas pembebasan tanah air telah membuktikan,..bahwa beliau juga salah seorang Ahmadi yg ikut berjuang untuk merdekanya NKRI ini,..oleh karna itu,..indonesia harus menjadi negara yg demokrasi dan mengingat jasa pahlawan2 kita,..wahai putra-putri indonesia,…janganlah berpecah belah karna beda pemahaman dan pendapat,..karna perpecahan adalah awal dari kehancuran kita semua..kususnya tanah air tercinta kita INDONESIA…terima kasih pejuang,..terima kasih Kakek…doa ku kan selalu terpanjat selama hayatku..Amin…

    1. kemungkinan beliau akan menolak gelar itu, beliau hanya ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dalam berbagai hal…

Komentar ditutup.