Kenapa Takut Pake Open Source?


Pengguna komputer sepertinya semakin lama semakin banyak, walau berdasarkan beberapa informasi yang saya dapat, penjualan komputer pada tahun 2009 menurun, ada juga yang mengatakan penjualan komputer stagnan pada tahun 2009. Tapi jika dilihat dilapangan….. mungkin benar juga penjualannya stagnan atau menurun, tapi sepertinya jumlah penggunanya semakin bertambah😀 bisa dilihat dari bertambah terus jumlah pengguna jejaring sosial (misal: facebook), forum online (misal: kaskus), blog (misal: blogger) dan microblog (misal: tweeter dan plurk). Tapi sayangnya perkembangan ini tidak diimbangi dengan informasi yang jelas tentang dunia teknologi informasi dan komunikasi ini. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya masyarakat yang mengidentikkan komputer dengan Windows, padahal Windows hanya sistem operasi dan itu juga merupakan merk dagang dari Microsoft. Lalu hardware yang diidentikkan dengan Pentium, contoh saja masih ada orang yang membeli komputer dengan mengatakan “Ko/Ci/Bang/Mas/Mba, ada komputer Pentium 4?”. Saya tidak akan memperpanjang tulisan saya dengan melanjutkan pembicaraan jula-beli komputer tadi, tapi dari situ sudah terlihat betapa informasi yang ada kurang memasyarakat.

Dengan kurang memasyarakatnya informasi mengenai dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK), mungkin inilah salah satu penyebab masih tingginya penggunaan software ilegal di Indonesia. Memang disadari masih banyak faktor lain yang menyebabkan hal ini terjadi tapi jika informasi mengenai TIK sampai kepada masyarakat dengan jelas, hal ini dapat memperkecil penggunaan software ilegal. Ini terbukti dengan masih sedikitnya pengguna OpenSource Software. Pengguna yang masih bertahan dengan software ilegal, dan tidak beralih ke opensource software salah satunya adalah masih adanya ketakutan dalam diri pengguna tersebut untuk migrasi ke opensource karena menurutnya opensource itu menyulitkan. Padahal kenyataannya tidak sepenuhnya benar, memang ada sedikit perbedaan tapi itu tidak menyulitkan asal mau belajar.

Dalam tulisan ini saya ingin membahas masalah penggunaan Linux yang merupakan opensource software namun sampai saat ini masih sedikit penggunanya. Dari beberapa orang yang saya kenal, banyak dari mereka yang enggan menggunakan Linux alasan klasik terlontar dari mereka, sulit menggunakan Linux. Saya tidak hanya sekedar ngomong tapi saya sendiri telah membuktikan bahwa menggunakan Linux tidak ada bedanya dengan menggunakan sistem operasi dari Microsoft.

Pada pertengahan kuliah saya, saya sudah mencoba dua distro yaitu SUSE dan Fedora. Pada proses instalasi  SUSE dan fedora, prosesnya tidak jauh berbeda dengan meng-isntall windows (klo hanya sekedar user tidak perlu melakukan ini, cukup minta tolong orang yang pengalaman, karena pengguna windows pun juga sangat sedikit yang meng-ingstall sendiri). Mungkin yang aga membingungkan pada awalnya hanya pada menentukan partisi. Hal yang sama juga ketika saya mencoba Ubuntu yang saya gunakan hingga saat ini.

Dalam penggunaannya, saya sama sekali tidak merasa aneh ketika mengunakan Linux (SUSE, Fedora, Ubuntu) yang saya rasakan sama saja seperti manggunakan sistem operasi windows, klik sana klik sini dan jalanlah aplikasi. Perbedaan hanya pada saat saya ingin meng-install aplikasi, tapi semua bisa dilakukan dengan mudah karena telah disajikan dengan GUI. Jadi saya merasa tidak ada yang perlu ditakutkan untuk bermigrasi ke Linux.

Jika informasi mengenai mudahnya memakai opensource software ini telah memasyarakat bukan tidak mungkin banyak yang akan migrasi ke opensource software karena tanpa perlu membajak software berbayar, sudah mendapatkan software yang original, dan hasilnya sama atau mendekati sama dengan menggunakan software berbayar. Disamping itu dukungannya pun telah tersebar karena banyak komunitas-komunitas opensource bermunculan baik itu skala lokal ataupun internasional. Sekarang tinggal kembali ke kitanya, apakah kita mau untuk migrasi menggunakan opensource software atau tidak, dan ketika kita telah menggunakan opensource software, saya harap kita bisa menyebarkan “NIKMATNYA” menggunakan opensource agar informasi ini dapat tersebar keseluruh pelosok.

Jadi KENAPA TAKUT PAKE OPEN SOURCE Software?

dan juga Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.

catatan:
opensource tidak hanya pada Linux ataupun software yang berjalan di Linux, tapi banyak juga software opensource yang bekerja di Windows seperti GIMP yang sudah ada versi windows-nya.

lebih banyak tentang open source, kunjungi Open Source Initiavite

5 thoughts on “Kenapa Takut Pake Open Source?

  1. Hmm, nice info.
    Saya setuju banget dengan garis besar artikel Haidar. OpenSource gak selalu sulit, malah banyak developer OpenSource yang sengaja menyediakan paket aplikasi tertentu buat orang awam yang bisa langsung pakai secara instan/on the fly.

    Kalau dari sisi OS OpenSource, mungkin saya juga belum bisa migrasi. Banyak urusan pekerjaan yang pemakaian aplikasinya hanya didukung oleh OS Windows (sebagian kecil juga ada di Mac), tapi tidak (belum) didukung di Linux.

    Selain itu, sebagai gamer hardcore PC, game2 branded sangat jarang yang juga terdukung pada OS OpenSource. Ini menjadi alasan lain kenapa saya belum hijrah🙂

    Tapi cuma itu saja sih. Saya juga gak fanatik dengan OS ato software komersil tertentu. Software2 yang saya pakai juga (kalo ada) diusahakan pake versi OpenSource / gratisan semua😀

      1. Ho oh. Namanya juga emulator, pasti gak semeyakinkan asli.
        Terutama kalo udah terbiasa main di native OS nya😀

        Thanks buat info2 emunya. Mungkin nanti2 bisa dicobain🙂

Komentar ditutup.