Tarif Listrik Naik…!! Hadapi saja…!!!


Awal tahun baru 2013, pemerintah mengumumkan tarif tenaga listrik tahun 2013 dengan kenaikan rata – rata total 15% dari tarif tenaga listrik 2010. Kenaikan dilakukan secara bertahap per tiga bulan sehingga tiap triwulannya kenaikan kurang lebih sekitar 4,3%. Jika dilihat secara sekilas, memang sepertinya kenaikan tarif listrik ini akan membebani masyarakat, belum lagi efek domino yang mungkin terjadi seperti kenaikan harga-harga barang.

Banyak orang mengeluhkan kenaikan tarif listrik yang dilakukan pemerintah, dan dianggapnya pemerintah tidak peka terhadap keadaan masyarakat dimana kondisi perekonomian semakin sulit. Tapi keputusan sudah ditetapkan dalam Peraturan Mentri ESDM No 30 tahun 2013 sehingga terhitung tanggal 1 Januari 2013, tarif listrik yang akan dibayar pada bulan Februari 2013 sudah menggunakan tarif baru yang pastinya akan lebih mahal jika dalam jumlah penggunaannya tetap sama dengan bulan-bulan sebelumnya.

Tujuan pemerintah menaikan tarif listrik adalah untuk mengurangi subsidi terhadap tenaga listrik karena berdasarkan informasi yang didapat, Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik untuk 2010 adalah sekitar Rp.1.089/kwh sedangkan jika masih menggunakan tarif tenaga listrik tahun 2010 harga jual listrik adalah sekitar Rp.693/kwh (sumber: hasil audit BPK)  yang artinya subsidi harus diberikan sebesar Rp.396/kwh. Kemudian berdasarkan data dari PLN, perkiraan BPP pada tahun 2013 adalah Rp.1.163/kwh dengan demikian dapat dibayangkan berapa subsidi yang harus digelontorkan pemerintah untuk pemakaian listrik. Mungkin yang jadi pertanyaan, mengapa BPP harus naik?? Banyak faktor yang menyebabkan BPP naik yang pasti adalah karena kondisi perekonomian dunia sehingga BPP menjadi naik tapi jika diperhitungkan dengan asumsi kondisi perekonomian yang sama persis pada tahun 2010, BPP pada tahun 2013 adalah Rp.988/kwh. Atau jika dibalik menggunakan asumsi kondisi perekonomian di tahun 2012, maka BPP ditahun 2010 adalah Rp.1.209/kwh, tahun 2012 Rp.1.152/kwh dan 2013 Rp.1.128. Artinya sebenarnya biaya produksi listrik mengalami penurunan biaya dari tahun ke tahun.

Dari sedikit penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan adalah, telah terjadi penurunan BPP dari tahun ke tahun namun penurunan tersebut tidak dapat mengatasi kenaikan biaya pada perekonomian dunia yang berdampak naiknya nilai akhir BPP tenaga listrik dan subsidi pun harus naik. Jika subsidi tidak dikendalikan dan terus-menerus subsidi membengkak, bukan tidak mungkin negara menjadi bankrut dan ini sangat berbahaya. Karena itulah keputusan menurunkan subsidi dilakukan dan hasilnya adalah kenaikan tarif listrik.

Masyarakat sebagai penikmat listrik pun juga harus lebih bijak dalam penggunaan listrik, karena semakin banyak menggunakan listrik, semakin besar pula subsidi yang harus digelontorkan oleh pemerintah. Sebenarnya dengan majunya teknologi penghematan listrik dapat dilakukan, antara lain :

  1. lampu-lampu sekarang sudah lebih hemat energi dengan watt 10-12 watt saja sudah setara dengan 40 watt lampu pijar biasa atau menggunakan bohlam LED dengan 6 watt sudah setara 40 watt lampu biasa dengan masa hidup sekitar 15 tahun (klaim produsen bohlam LED),
  2. televisi non-tabung (LCD/LED) memeiliki penggunaan daya lebih kecil dibandingan dengan televisi tabung (CRT) dengan ukuran yang sama,
  3. AC dan kulkas sudah banyak yang mengenalkan teknologi hemat energi, dan atur penggunaan AC pada saat-saat dibutuhkan saja,
  4. pengaturan penggunaan mesin cuci dan setrika, lakukan kegiatan cuci-mencuci dan menyetrika secara masal, lakukan sekali pencucian/penyetrikaan untuk jumlah pakaian yang banyak,
  5. dan pastikan seluruh peralatan elektronik dalam keadaan tidak aktif/mati ketika tidak digunakan.

Dengan lebih bijak dalam menggunakan listrik, kita dapat menghadapi kenaikan tarif listrik dan semoga momen ini dapat mendewasakan kita semua yang sudah terbiasa dimanjakan dengan subsidi.

Untuk mengunduh Peraturan Mentri ESDM No. 30 tahun 2012 terapat pada URL : http://adf[dot]ly/GzsUn

(ubah [dot] dengan ‘.’ tanpa tanda petik.